PRINGSEWU — Kantor Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah II Provinsi Lampung menggandeng UPT Perpustakaan UIN Raden Intan Lampung untuk memperkuat ekosistem literasi di lingkungan sekolah.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui workshop bertajuk “Membangun Ekosistem Literasi Holistik Melalui Perpustakaan Sekolah yang Inovatif dan Edukatif” yang digelar di SMA Negeri 1 Pringsewu, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan ini mempertemukan para kepala sekolah dan pengelola perpustakaan SMA di wilayah kerja Cabdin Pendidikan Wilayah II yang meliputi Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, dan Tanggamus.
Kepala Cabdin Pendidikan Wilayah II Provinsi Lampung, Rodi Hayani Samsun, mengatakan pengelolaan perpustakaan sekolah perlu bertransformasi mengikuti perkembangan kebutuhan peserta didik.
Menurut dia, perpustakaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi harus menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
“Sekolah harus berani keluar dari zona nyaman. Perpustakaan jangan hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi harus menjadi jantung kegiatan akademik sekaligus pusat informasi di lingkungan satuan pendidikan,” kata Rodi.

Ia menambahkan, penguatan perpustakaan sekolah juga sejalan dengan program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung dalam mendorong peningkatan kualitas sekolah, termasuk pengembangan sekolah unggulan.
Karena itu, keberadaan perpustakaan yang dikelola secara profesional dinilai menjadi salah satu unsur penting dalam membangun budaya belajar dan literasi di sekolah.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapat pembekalan mengenai strategi dan tata kelola perpustakaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan informasi generasi pelajar.
Materi disampaikan oleh Dr. Eni Amaliah, S.Ag., S.S., M.Ag., Kepala UPT Perpustakaan UIN Raden Intan Lampung sekaligus Ketua Forum Literasi Lampung.
Eni membedah strategi inovatif pengelolaan perpustakaan sekolah dengan mengacu pada ketentuan Standar Nasional Perpustakaan (SNP).
Ia menekankan perpustakaan sekolah memiliki posisi strategis dalam mendukung proses pendidikan, bukan sekadar sebagai pelengkap fasilitas sekolah.
“Perpustakaan sekolah harus menjadi pusat sumber belajar, penunjang kegiatan kurikulum, sekaligus sarana pengembangan budaya literasi bagi siswa dan guru,” ujar Eni.
Menurut dia, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat perpustakaan sekolah dituntut semakin adaptif. Pengelola perpustakaan perlu memahami kebutuhan pengguna sekaligus mampu menghadirkan layanan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Di tengah kebutuhan informasi yang semakin cepat, perpustakaan harus mampu beradaptasi. Ruang perpustakaan harus hidup dan benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang belajar serta pusat informasi yang mudah diakses warga sekolah,” katanya.
Workshop tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan komitmen bersama para kepala dan pengelola perpustakaan sekolah di wilayah Cabdin Pendidikan Wilayah II Provinsi Lampung.
Komitmen itu diarahkan untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang aktif, meningkatkan minat baca peserta didik secara berkelanjutan, serta menyediakan sumber literatur yang dekat, edukatif, dan inovatif.
Selain itu, perpustakaan didorong menjadi pusat data dan rujukan ilmu pengetahuan yang mendukung kegiatan akademik di sekolah.
Kolaborasi Cabdin Pendidikan Wilayah II dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Intan Lampung tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan workshop, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya literasi yang lebih kuat di sekolah-sekolah wilayah Pesawaran, Pringsewu, dan Tanggamus.(*)
Penulis : Wahyudi
Editor : ****




