Negeri Ini Pernah Diurus Dengan Sepenuh Hati..

- Jurnalis

Jumat, 21 Februari 2025 - 21:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Jakarta, Atmosfirnews.id

Melihat foto ini di timeline, kenangan langsung terbayang bagaimana metode pemilihan Menteri di era Pak Harto berjalan dengan selektif, berwibawa, berilmu dan berintegritas.

Hampir tak pernah kita dengar ada Menteri era beliau yang aneh-aneh pernyataannya dan perbuatannya. Semua terdidik dan tertata dengan baik. Koordinasi antar departemen sangat baik, tidak ada yang menjadi Menteri segala urusan.

Pemilihan menteri semua berkompeten di bidangnya, meski zaman itu profesor sangat jarang.. namun kebanyakan mereka bergelar profesor, artinya apa.?? Memang kemampuan akademik menjadi tolok ukur kemampuan, pemikiran dan kewibawaan.

Di acara kenegaraan, baik itu ASEAN atau level dunia, mencari pemimpin kita paling gampang. Kalau foto bersama pasti berada di depan sekali dan posisinya di tengah. Benar-benar dihormati sebagai pemimpin negara besar.

Beralih ke daerah. Tidak ada ceritanya zaman itu, anak baru tamat kuliah jadi bupati atau jadi anggota dewan. Politik memang zona orang yang mapan berpikir, mapan ekonomi dan mapan pendidikan, benar- benar diseleksi.

Level Gunernur atau Bupati setidaknya kalau kita ingat adalah pensiunan tentara berpangkat Kolonel atau mantan Rektor atau pejabat yg sudah berpengalaman puluhan tahun. Jadi bisa menterjemahkan arah pembangunan dari skala nasional ke daerah.

Zaman itu, Politik bukan tempat orang-orang buangan yang tidak diterima di dunia kerja, lalu karena banyak duit dan banyak keluarga bisa menjadi anggota dewan dan pemimpin daerah.

Dulu, ibu Tutut bisa jadi menteri setelah berusia 49 tahun, itupun sebelumnya pernah jadi anggota MPR RI. Jadi kalau pun disebut Nepotisme tapi memang bermutu.

Baca Juga :  Pemprov Lampung Jelaskan Alasan Penertiban Lahan Ex PTP

Bandingkan dengan sekarang.. Ehm..
Perasaan, sekarang ini Nepotismenya mencolok mata sekali, meski dengan dalih dipilih langsung oleh rakyat.

Lantas, di tubuh kesatuan dan pemerintahan. Siapa jadi apa karena bapaknya ada di llingkaran kekuasaan.

Akh.. Benar-benar kangen zaman Pak Harto..
Dimana zaman tak boleh ada sekolah swasta kaya. Seragam SD sampai SMA diciptakan di zaman Pak Harto, tujuannya agar satu, si kaya dan si miskin bisa satu kelas dalam tujuan pendidikan.

Zaman dimana masa-masa swasembada pangan bahkan bisa ekspor, kita bisa hidup tenang gak mikirin habis beras, negara agraris bukan hanya slogan, semua dikelola dan dijamin oleh pemerintah.

Zaman pak Harto, pak Tani dikasih mimbar dialog rutin dalam kelompencapir, bukan dibohongi, dikasih subsidi pupuk dan traktor, lalu ditarik lagi.

Zaman pak Harto, kalau ke sawah ya panen raya bersama semua Menteri, menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara besar. Maka setiap kali acara kenegaraan mencari posisi Soeharto paling gampang, paling depan dan tengah…

Era sekarang mah beda, ke sawah pas dekat pemilu saja, sampe masuk-masuk lumpur, giliran sudah jadi, boro-boro mikirin petani.. petani panen malah dihajar, dibuka keran impor…

Zaman Pak Harto, masuk UI, masuk UGM murah banget, zaman sekarang pendidikan na’uzubillah mahal banget, anak SD saja bisa puluhan juta, masuk ke sekolah swasta yang status sosialnya tinggi, pendidikan dibawa ke komoditifikasi status sosial.

Baca Juga :  Gepak Lampung Ucapkan Selamat Atas Dilantiknya Thomas Americo sebagai Kadisdikbud Provinsi Lampung

Zaman Pak Harto pendidikan dibawah negara, kualifikasi ada di tangan negara, sehingga yang maju sekolah-sekolah negeri. Kita masih ingat asal nama SMA 1 adalah sekolah terbaik, lalu ada sekolah-sekolah terbaik negeri di segala penjuru, si kaya dan si miskin bersekolah di tempat yang sama.

Zaman itu, anak tukang becak kuliah sudah biasa, jaman sekarang, anak tukang becak bisa lulus dokter dianggap mukjizat, dirayakan besar-besaran, sistem pendidikan dirampas hanya untuk orang kaya.

Zaman Pak Harto, puskesmas di mana-mana, sistem pengobatan teratur, posyandu dijadikan gerbang besar kesehatan publik, ibu-ibu PKK dijadikan volunteer atas kinerja negara di bidang kesehatan, tapi di zaman sekarang, para dokter dan suster diajarkan bagaimana cara berbisnis, tidak ada lagi gairah dalam berbisnis.

Di zaman sekarang inilah tragedi kesehatan berlangsung, bayi mati ditolak di rumah sakit, anak remaja mati ditolak rumah sakit, padahal rumah sakit menjamur dimana-mana…..

Zaman Pak Harto pendidikan, kesehatan dan papan menjadi tugas layanan negara, di zaman demokrasi liberal, pendidikan, kesehatan dan papan menjadi alat kapitalis dalam menguras kerja rakyat. Tak ada pertanggung-jawaban negara sama sekali atas ruang publik.

Zaman Pak Harto, selalu dekat dan santun dengan Ulama.. Maka memang negeri ini adem. Karena diurus dengan serius..

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Dugaan Pungli Truk Batu Bara Rp2,3 Juta per Armada, Jejak Transfer Mengarah ke Rekening Hendra Bajil
Survei Rakata: Kepuasan Publik terhadap Mirza-Jihan Tembus 80 Persen
Derden Verzet Elti Yunani Ditolak, Kuasa Hukum Nuryadin: Sita SHM 674/GR Tetap Lanjut
Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan Raih Predikat Terbaik RPL JPT Madya
Terima SP3, Nuryadin: Keadilan Masih Berpihak pada Kebenaran
Krakatau Raya Resmi Jadi Korda IJTI, Heri Fulistiawan Pimpin Jurnalis TV Lamsel-Lamtim
KKN Universitas Saburai di Sukoharjo: Kampus Turun ke Desa, Dorong Sampah Terpilah, UMKM Digital hingga Pendidikan Antibullying
Hampir Rp 1 Miliar Telan APBD, Jalan Lorong Usaha Sudah Patah. GEPAK Desak PUPR dan Kontraktor Bertanggung Jawab
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 12:06 WIB

Dugaan Pungli Truk Batu Bara Rp2,3 Juta per Armada, Jejak Transfer Mengarah ke Rekening Hendra Bajil

Jumat, 18 September 2026 - 13:56 WIB

Survei Rakata: Kepuasan Publik terhadap Mirza-Jihan Tembus 80 Persen

Rabu, 16 September 2026 - 17:56 WIB

Derden Verzet Elti Yunani Ditolak, Kuasa Hukum Nuryadin: Sita SHM 674/GR Tetap Lanjut

Rabu, 16 September 2026 - 09:55 WIB

Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan Raih Predikat Terbaik RPL JPT Madya

Selasa, 15 September 2026 - 07:41 WIB

Terima SP3, Nuryadin: Keadilan Masih Berpihak pada Kebenaran

Berita Terbaru

Berita Utama

Jelang Kongres di Lampung, Ridho Alamsyah Muncul di Bursa PB HMI

Selasa, 22 Sep 2026 - 15:18 WIB