Tragedi RSUDAM: Panggung Berebut Peran

- Jurnalis

Minggu, 24 Agustus 2025 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung, Atmosfirnews.id

Kantor baru di pinggiran kota itu masih berbau cat. Di dalamnya, dua sahabat lama, Pak Haji dan Udin, duduk berhadapan. Di meja sederhana, dua cangkir kopi hitam yang mulai mendingin menemani percakapan sore itu.

Suasana hening tiba-tiba pecah ketika Udin menunjukkan notifikasi berita di ponselnya. Kabar duka yang belakangan membuat heboh publik: seorang bayi dari Lampung Selatan meninggal di RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM). Tak cukup sampai di situ, muncul pula kabar pungutan liar yang dilakukan oknum dokter rumah sakit pelat merah itu.

Pak Haji menarik napas panjang, wajahnya muram. “Tragedi ini menyayat, Din. Nyawa bayi melayang di tengah pelayanan kesehatan yang mestinya jadi penopang terakhir. Tapi lihatlah, bukannya masalah yang dibedah, panggung politik justru yang ramai.”

Udin menimpali, nadanya getir. “Betul, Ji. Dewan berbondong-bondong heboh. Ada anggota dari partai kepala garuda yang menilai langkah rumah sakit memberhentikan oknum dokter sudah tepat. Tapi ada juga dari partai banteng yang baru mau memanggil petinggi rumah sakit. Semua berusaha terlihat sibuk, semua ingin disorot kamera.”

Di ruang rapat gedung dewan, drama itu memang sedang dimainkan. Nama-nama satu persatu muncul, besok mungkin berganti dengan politisi lain. Tradisi ini sudah menjadi budaya, begitu ada borok menganga, semua mendadak jadi pahlawan kesiangan.

Baca Juga :  Pj. Gubernur Samsudin Terima Kunjungan Pengurus IWO Lampung, Diharapkan Dapat Bantu Pemprov Lampung Menyebarkan Informasi Pembangunan Kepada Masyarakat

Direktur RSUDAM, dr. Imam Ghozali, sudah mencoba menenangkan situasi. Ia menegaskan tidak ada ruang toleransi untuk pungli. Bahkan ia berjanji segera menggelar penanda-tanganan fakta integritas dengan seluruh tenaga kesehatan. “Kami tidak mentolerir praktik semacam itu,” katanya.

Namun di mata publik, janji semacam itu hanya seperti asap rokok yang sebentar hilang ditiup angin. Udin menggeleng pelan. “Berapa kali fakta integritas diteken? Nyatanya, pungli masih subur.”

Pak Haji menyahut dengan nada pedas. “Si ini dan si ono, lalu besok siapa lagi? Tradisi ini sudah jadi budaya ketika borok menganga dinikmati publik. Semua berusaha terlihat sibuk agar nampak dilihat bekerja. Kita paham benar dengan tabiat petugas partai yang notabene anggota dewan yang terhormat. Entah sampai kapan situasi ini harus terus terjadi.”

Ia berhenti sejenak, menatap keluar jendela sebelum melanjutkan, “Bahkan yang lebih unik lagi, ditengah buruknya pelayanan rumah sakit ada yang sibuk menyoroti anggaran yang akan menjadi pundi bagi Pemprov Lampung. Semua sibuk dengan perangai masing-masing.”

 

Di luar gedung dewan, realitas lebih pahit. Seorang bayi kehilangan hidup sebelum sempat mengenal dunia. Keluarganya berduka, tapi dukanya tenggelam dibalik sorak-sorai politik. Rapat demi rapat, pernyataan demi pernyataan, bergema kencang, tapi bukan untuk mencari akar masalah. Hanya lomba siapa paling cepat memanggil pejabat rumah sakit, siapa paling keras mengutuk.

Baca Juga :  Momentum Hari Guru 2025 Jadi Pengingat Pentingnya Meningkatkan Kesejahteraan dan Kompetensi Guru

Di ruang kecil kantor baru itu, percakapan Pak Haji dan Udin terus mengalir. Kopi mereka sudah dingin, asap rokok tinggal puntung. Tapi kata-kata mereka mencerminkan suara publik yang hanya bisa menjadi penonton.

“Semua sibuk dengan perangainya masing-masing,” kata Pak Haji lirih. “Ada yang ingin jadi pahlawan, ada yang sekadar cari kamera, ada yang pura-pura tak tahu. Rakyat? Hanya jadi penonton setia sinetron paripurna.”

Udin mengangguk, suaranya pelan. “Bayi itu sudah tiada, Ji. Tapi di panggung dewan, tragedi berubah jadi modal politik. Hari ini satu kasus, besok kasus lain. Sinetron ini tidak akan tamat. Tinggal tunggu siapa pemain baru yang akan tampil.”

Langit di luar jendela mulai mendung. Hujan belum turun, tapi hawa muram sudah terasa. Sama muramnya dengan perasaan publik yang harus menyaksikan tragedi kemanusiaan berubah jadi panggung perebutan sorotan.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Sekolah Negeri di Bandar Lampung Diduga Dibebani Iuran Tim Hukum, Setor Rp100–150 Ribu Tiap Bulan
Antisipasi Banjir, Camat Enggal Turun Langsung Bersihkan Drainase
Tiga Tahun Mencari Keadilan! Ofpy Arianti Desak Polisi Tegak Lurus, Tolak Penangguhan Penahanan Terlapor
Bungkam Kabid-Kadis DPMPTSP Bandar Lampung soal Izin Alfamart: Menghindar, Memblokir Wartawan, atau Ada yang Ditutupi?
Rekening PT PSMI Diblokir, Nasib 60 Ribu Warga Terancam! FORSAL dan For-WIN Minta Kejaksaan Jangan Abaikan Rakyat
Bandar Lampung Sekarat: Menelanjangi Celah Izin Perumahan Berkedok Tambang Ilegal
Coreng Institusi Adhyaksa: Oknum Kejari Lampung Barat Diduga Nyabu, Desakan PTDH Menguat!
Rapor Merah Prabowo-Gibran, Aliansi Lampung Melawan Gugat Karhutla hingga BBM
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 14:52 WIB

Sekolah Negeri di Bandar Lampung Diduga Dibebani Iuran Tim Hukum, Setor Rp100–150 Ribu Tiap Bulan

Senin, 2 November 2026 - 22:11 WIB

Tiga Tahun Mencari Keadilan! Ofpy Arianti Desak Polisi Tegak Lurus, Tolak Penangguhan Penahanan Terlapor

Senin, 2 November 2026 - 15:31 WIB

Bungkam Kabid-Kadis DPMPTSP Bandar Lampung soal Izin Alfamart: Menghindar, Memblokir Wartawan, atau Ada yang Ditutupi?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:44 WIB

Rekening PT PSMI Diblokir, Nasib 60 Ribu Warga Terancam! FORSAL dan For-WIN Minta Kejaksaan Jangan Abaikan Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Bandar Lampung Sekarat: Menelanjangi Celah Izin Perumahan Berkedok Tambang Ilegal

Berita Terbaru