Tutur Tewas Saat “Ngejek” Cari Emas di Way Umpu, Dugaan PETI Pakai Excavator Jadi Sorotan

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Way KANAN — Aktivitas pencarian emas di sepanjang aliran Sungai Way Umpu, Kabupaten Way Kanan, kembali memakan korban. Seorang warga bernama Tutur meninggal dunia setelah tertimbun material tanah saat mencari emas di kawasan tersebut, Minggu (5/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Tutur diketahui sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban dan dikenal warga sebagai sosok yang ramah. Ia tinggal di kawasan Km 4, Kelurahan Blambangan Umpu, meski disebut merupakan warga Kampung Gunung Sangkaran.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, saat kejadian Tutur tengah mencari emas menggunakan mesin sederhana dengan metode yang dikenal oleh para penambang setempat sebagai “ngejek”. Aktivitas tersebut dilakukan bersama istri pertamanya.

Material tanah kemudian longsor dan menimpa tubuh Tutur. Nyawanya tidak tertolong.

Kabar meninggalnya Tutur sontak mengundang duka di tengah masyarakat, terutama warga yang selama ini mengetahui aktivitas pencarian emas di sepanjang aliran Way Umpu.

Lurah Blambangan Umpu, Malik, membenarkan peristiwa tersebut.

Menurut Malik, Tutur memang dikenal masyarakat di kawasan Km 4 sebagai tukang tambal ban. Namun, secara administrasi, almarhum merupakan warga Kampung Gunung Sangkaran.

Baca Juga :  Acara Festival Kebudayaan Daerah Kabupaten Way Kanan Tahun 2024 Dibuka Raden Adipati Surya.

“Almarhum memang dikenal sebagai tukang tambal ban oleh masyarakat yang tinggal di Km 4 Kelurahan Blambangan Umpu. Namun aslinya Tutur merupakan warga Kampung Gunung Sangkaran,” ujar Malik.

Malik menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia juga meminta warga yang masih melakukan aktivitas pencarian emas di sepanjang Way Umpu meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lokasi dapat membahayakan keselamatan.

“Kami turut berduka atas meninggalnya Tutur. Kami mengimbau warga yang mencari emas di sepanjang Way Umpu agar berhati-hati sehingga tidak ada lagi korban,” katanya.

Kematian Tutur Soroti Aktivitas Tambang

Meninggalnya Tutur tidak hanya menyisakan duka. Peristiwa tersebut kembali membuka perhatian terhadap aktivitas pertambangan emas di kawasan Way Umpu.

Di sejumlah titik, masyarakat menyoroti adanya aktivitas pertambangan yang diduga menggunakan alat berat jenis excavator untuk menggali dan mengeruk material tanah.

Penggunaan alat berat dalam aktivitas pertambangan tersebut menjadi persoalan yang perlu diperiksa, terutama menyangkut legalitas kegiatan, keselamatan kerja, serta dampaknya terhadap kondisi lingkungan di sekitar aliran Way Umpu.

Masyarakat mempertanyakan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di kawasan tersebut. Terlebih, peristiwa yang menewaskan Tutur kembali menunjukkan adanya risiko keselamatan dalam kegiatan pencarian emas yang dilakukan masyarakat.

Baca Juga :  Kapolres Akan Pecat Anggota nya 3 x 24 Jam, Bila Terlibat Penambangan Emas Ilegal dan Perambahan Lahan di PTPN 1 Regional 1 Bapu.

Persoalannya kini bukan semata mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa Tutur. Aktivitas pertambangan di sepanjang Way Umpu juga perlu dipastikan status hukumnya.

Jika aktivitas pertambangan menggunakan alat berat tersebut memiliki izin, masyarakat berhak mendapatkan kejelasan mengenai legalitas dan pengelolaan lingkungan yang dijalankan.

Sebaliknya, jika ditemukan aktivitas pertambangan tanpa izin atau PETI, aparat penegak hukum dan instansi terkait diminta mengambil langkah sesuai ketentuan.

Sebab, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Kini satu nyawa telah melayang. Kematian Tutur seharusnya menjadi momentum bagi aparat dan instansi terkait untuk turun langsung memeriksa kondisi pertambangan di sepanjang Way Umpu.

Jangan sampai tragedi serupa kembali terjadi, sementara aktivitas pertambangan terus berjalan tanpa pengawasan yang memadai.

Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar imbauan, tetapi kejelasan mengenai siapa yang mengawasi, bagaimana legalitas aktivitas pertambangan tersebut, dan apa langkah konkret pemerintah serta aparat penegak hukum setelah seorang warga kehilangan nyawa.

(**)

Penulis : Wahyudi

Editor : ******

Berita Terkait

GRANAT Desak Pemkab dan Polres Way Kanan Tindak Tegas Cafe di Kawasan Register
Dugaan Mafia BBM Subsidi di Way Kanan Terbongkar, Dua Petugas SPBU Turut Diamankan
Ilham Padli Lepas Kontingen PMI Way Kanan Ikuti Lomba Tandu Tingkat Provinsi Lampung
Di Hadapan DPR, BPBR Desak Pengembalian Tanah Adat dan Pengakuan Wilayah Adat dalam RUU Masyarakat Adat
Kapolres Tegaskan Hiburan Malam Lewati Pukul 21.00 WIB Akan Ditindak
Ardho: Ratusan Tahun Masyarakat Adat Hanya Jadi Penonton di Tanah Sendiri
Ketua SMSI Ungkap Dugaan Modus ASN Akali Sistem, Bupati Diminta Bersikap Tegas
SISTEM ABSENSI PEMKAB WAY KANAN DIDUGA BERMASALAH, ASN HADIR DI ABSENSI TAPI TAK ADA DI RUANGAN
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:41 WIB

GRANAT Desak Pemkab dan Polres Way Kanan Tindak Tegas Cafe di Kawasan Register

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:58 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi di Way Kanan Terbongkar, Dua Petugas SPBU Turut Diamankan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Tutur Tewas Saat “Ngejek” Cari Emas di Way Umpu, Dugaan PETI Pakai Excavator Jadi Sorotan

Sabtu, 19 September 2026 - 19:29 WIB

Ilham Padli Lepas Kontingen PMI Way Kanan Ikuti Lomba Tandu Tingkat Provinsi Lampung

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:23 WIB

Di Hadapan DPR, BPBR Desak Pengembalian Tanah Adat dan Pengakuan Wilayah Adat dalam RUU Masyarakat Adat

Berita Terbaru