LAMPUNG UTARA — Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Di tengah masyarakat, kampus juga dituntut hadir membawa ilmu pengetahuan, teknologi dan gagasan untuk menjawab persoalan nyata.
Semangat tersebut ditunjukkan Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai (Universitas Saburai) melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok IV Tahun 2026 di Desa Sukoharjo, Kecamatan Abung Surakarta, Kabupaten Lampung Utara.
KKN di Desa Sukoharjo tidak diarahkan sekadar menjadi agenda akademik atau kegiatan seremonial. Mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi, berkomunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat, mengidentifikasi persoalan, kemudian menyusun program yang dinilai dapat memberikan manfaat langsung.
Sejumlah program pun dijalankan, mulai dari Bank Sampah Cerobong, papan informasi mengenai jenis sampah dan waktu terurai, digitalisasi pembayaran UMKM melalui QRIS DANA, hingga edukasi pencegahan bullying bagi peserta didik tingkat SD, MI, SMP dan MA.
Rektor Universitas Saburai, Dr. Sodirin, S.E., M.M., menegaskan bahwa KKN merupakan bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa sekaligus bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.
“KKN merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat,” ujar Sodirin.
Menurut dia, mahasiswa yang diterjunkan ke masyarakat tidak hanya dituntut mampu menerapkan ilmu yang diperoleh selama berada di kampus, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial di lingkungan masyarakat.
“Kami berharap mahasiswa yang terjun langsung ke masyarakat dapat menjadi agen perubahan dan mampu berkontribusi dalam membangun desa,” kata Sodirin.
*Tidak Datang Sekadar Membawa Program*
Kekuatan KKN Universitas Saburai di Sukoharjo terlihat dari proses yang dilakukan mahasiswa sebelum menentukan kegiatan.
Mahasiswa melakukan pengamatan langsung dan membangun komunikasi dengan kepala desa, kepala dusun, ketua RT, ketua RW serta tokoh masyarakat.
Pendekatan tersebut penting agar program yang dilaksanakan tidak semata-mata berdasarkan asumsi mahasiswa.
Masyarakat ditempatkan sebagai mitra.
Dari proses tersebut, mahasiswa kemudian menemukan sejumlah persoalan yang dapat disentuh melalui program pengabdian.
Bagi Universitas Saburai, pola seperti ini sejalan dengan tujuan KKN yang tidak hanya memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Sodirin sebelumnya menekankan bahwa KKN harus mampu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
*Bank Sampah Cerobong: Sampah Jadi Sarana Edukasi*
Salah satu program yang menonjol di Desa Sukoharjo adalah Bank Sampah Cerobong.
Program tersebut diawali dengan identifikasi kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat terkait pengelolaan sampah.
Mahasiswa kemudian melibatkan pemerintah desa dan masyarakat dalam proses persiapan dan pembuatan sarana bank sampah.
Namun, program tidak berhenti pada pembangunan fasilitas.
Mahasiswa juga membuat papan informasi yang menjelaskan jenis sampah dan waktu yang diperlukan untuk terurai.
Papan tersebut diharapkan menjadi media edukasi bagi masyarakat agar memahami bahwa setiap jenis sampah memiliki karakteristik dan dampak lingkungan yang berbeda.
Dengan demikian, Bank Sampah Cerobong tidak hanya menjadi fasilitas pengumpulan sampah.
Program itu sekaligus diarahkan untuk membangun kebiasaan memilah sampah dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
*UMKM Sukoharjo Didorong Masuk Ekonomi Digital*
Perubahan pola transaksi masyarakat juga menjadi perhatian mahasiswa Universitas Saburai.
Pelaku UMKM di Desa Sukoharjo diperkenalkan dengan sistem pembayaran digital melalui QRIS DANA.
Sosialisasi dilakukan melalui demonstrasi, praktik, pendampingan pembuatan QRIS, pencetakan kode pembayaran hingga uji coba transaksi.
Bagi kampus, digitalisasi tersebut bukan sekadar persoalan teknis pembayaran.
Lebih jauh, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pelaku UMKM desa terhadap perkembangan ekonomi digital.
Pelaku usaha tidak hanya dituntut mampu menghasilkan produk, tetapi juga perlu memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pemasaran dan mempermudah transaksi.
Kegiatan KKN juga diisi dengan pengenalan pemasaran produk secara online dan penggunaan dompet elektronik.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, langkah tersebut dapat menjadi fondasi bagi penguatan UMKM desa berbasis digital.
Pendidikan Antibullying Jadi Perhatian
Pengabdian mahasiswa Universitas Saburai juga menyentuh sektor pendidikan.
Edukasi mengenai pencegahan bullying diberikan kepada peserta didik tingkat SD, MI, SMP hingga MA.
Materi yang diberikan mencakup bullying fisik, verbal, sosial serta cyberbullying.
Mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai langkah pencegahan, cara menghadapi tindakan perundungan serta pentingnya melaporkan bullying kepada pihak yang dapat memberikan perlindungan.
Program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu berbentuk pembangunan fisik.
Pembangunan sumber daya manusia dan pembentukan karakter generasi muda juga merupakan bagian penting dari pembangunan masyarakat.
Nilai empati, toleransi, kepedulian dan sikap saling menghargai diharapkan dapat tumbuh sejak lingkungan sekolah.
Rektor: KKN Harus Memberi Manfaat Nyata
Sodirin menilai keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat harus memberikan pengalaman sekaligus manfaat.
“KKN ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang bertujuan tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk mampu memahami persoalan yang ditemukan di lapangan dan mencari solusi berdasarkan disiplin ilmu yang dimiliki.
“Mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah,” kata Sodirin.
Menurutnya, KKN juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan analitis, memahami kondisi sosial dan membangun kepedulian terhadap lingkungan masyarakat.
Tantangan Terbesar: Keberlanjutan
Di balik keberhasilan pelaksanaan program, terdapat tantangan yang lebih besar: memastikan program tetap berjalan setelah mahasiswa meninggalkan desa.
Bank Sampah Cerobong membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Digitalisasi UMKM membutuhkan kemampuan pelaku usaha untuk mengoperasikan QRIS secara mandiri.
Sementara edukasi antibullying membutuhkan dukungan sekolah, guru, orang tua dan lingkungan sosial.
Karena itu, keberhasilan KKN tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak program yang selesai dilaksanakan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah perubahan yang dimulai mahasiswa dapat diteruskan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, KKN dapat menjadi tahap awal untuk membangun hubungan jangka panjang antara perguruan tinggi dan desa.
Dari KKN Menuju Desa Binaan
Desa Sukoharjo memiliki sejumlah modal sosial yang dapat dikembangkan.
Kegiatan gotong royong, aktivitas sosial dan keagamaan, kelembagaan desa, pertanian serta UMKM menjadi potensi yang dapat dikembangkan melalui pendampingan berbasis ilmu pengetahuan.
Di sinilah peluang Universitas Saburai untuk mengembangkan konsep desa binaan terbuka.
Program yang telah dimulai melalui KKN dapat dikembangkan secara bertahap:
KKN → Desa Binaan → Penelitian Terapan → Pengabdian Berkelanjutan → Desa Inovatif.
Dalam konsep tersebut, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan.
Dosen menjadi pendamping berbasis keilmuan.
Pemerintah desa menjadi mitra pembangunan.
Sedangkan masyarakat tetap menjadi pelaku utama.
Universitas Saburai kemudian dapat berperan sebagai mitra pengetahuan bagi desa.
100 Persen Program Selesai, Bukan Garis Akhir
Seluruh program kerja KKN Kelompok IV di Desa Sukoharjo dilaporkan mencapai tingkat penyelesaian 100 persen.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa agenda yang telah direncanakan dapat dilaksanakan.
Namun, bagi perguruan tinggi, penyelesaian program seharusnya bukan menjadi titik akhir.
Justru dari capaian tersebut dapat dilakukan evaluasi untuk melihat dampak, tingkat partisipasi masyarakat dan peluang pengembangan program.
Hal tersebut sejalan dengan arah KKN Universitas Saburai yang menempatkan kegiatan pengabdian sebagai ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Kampus Hadir, Desa Bergerak
KKN di Desa Sukoharjo memperlihatkan bahwa hubungan antara kampus dan desa dapat dibangun melalui kolaborasi.
Mahasiswa membawa energi dan gagasan baru.
Dosen membawa ilmu pengetahuan.
Pemerintah desa membawa kebutuhan pembangunan.
Masyarakat membawa pengalaman serta pengetahuan lokal.
Jika seluruh unsur tersebut dipertemukan, KKN tidak lagi sekadar kewajiban akademik.
Ia berubah menjadi ruang kolaborasi pembangunan.
Bagi Universitas Saburai, semangat tersebut sejalan dengan komitmen perguruan tinggi untuk memperkuat kontribusi pendidikan tinggi kepada masyarakat. Universitas Saburai sendiri mencantumkan Dr. Sodirin, S.E., M.M. sebagai rektor dalam laman resminya.
Sukoharjo Menjadi Awal, Bukan Akhir
Pada akhirnya, KKN Universitas Saburai di Desa Sukoharjo bukan hanya tentang mahasiswa yang datang ke desa dan menyelesaikan sejumlah program.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Bank Sampah Cerobong menjadi pintu masuk kesadaran lingkungan.
QRIS menjadi pintu masuk transformasi ekonomi digital.
Edukasi antibullying menjadi bagian dari pembangunan karakter generasi muda.
Sedangkan keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat menjadi fondasi keberlanjutan program.
Jika seluruh proses tersebut dilanjutkan, Sukoharjo bukan hanya menjadi lokasi KKN.
Desa itu dapat berkembang menjadi laboratorium pengabdian, penelitian terapan dan inovasi Universitas Saburai.
Seperti ditegaskan Sodirin, KKN harus memberi ruang bagi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari KKN menuju Desa Binaan.
Dari Desa Binaan menuju Desa Mandiri.
Dan dari Universitas Saburai untuk masyarakat serta pembangunan Lampung.(*)




