Jika mamalia besar lain menguasai daratan, tapir justru memilih air sebagai pusat kehidupan.
Ada banyak perilaku tak lazim yang membuat ilmuwan geleng-geleng kepala:
Snorkeling Alami: Saat dikejar predator seperti harimau, tapir akan langsung melompat ke sungai dan menyelam. Mereka menggunakan belalai fleksibelnya sebagai snorkel untuk bernapas di permukaan air sambil menyembunyikan seluruh tubuhnya di dasar sungai.
Taktik BAB Genius: Tapir punya kebiasaan unik selalu buang air besar (BAB) di dalam air. Tujuannya sangat cerdas: melarutkan kotoran agar jejak bau tubuh mereka hilang sepenuhnya dari penciuman predator darat.
Ritual Air: Tidak cuma berenang, tapir bahkan tidur siang, berkubang lumpur, hingga melakukan proses perkawinan di dalam air dangkal.
Refleks Flehmen: Saat mencium sesuatu yang menarik, tapir akan mengangkat belalainya tinggi-tinggi dan meringis pamer gigi. Ini adalah cara mereka mengarahkan partikel bau ke organ penciuman khusus di langit-langit mulut.
“Petani Hutan” dengan Pertumbuhan Super Lambat
Di dalam ekosistem, tapir adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Sebagai hewan herbivor yang doyan makan buah dan dedaunan, mereka bertindak sebagai penyebar biji alami [yiari.or.id]. Hebatnya, sistem pencernaan tapir tidak merusak biji buah yang mereka telan. Biji tersebut keluar utuh bersama kotoran di tempat yang jauh, tumbuh menjadi pohon baru, dan menjaga regenerasi hutan tetap berjalan.
Mirisnya, kontribusi besar ini tidak sebanding dengan kecepatan mereka bereproduksi. Tapir adalah salah satu hewan dengan pertumbuhan populasi paling lambat di dunia:
1. Masa Hamil 14 Bulan: Tapir betina harus mengandung selama hampir 400 hari hanya untuk melahirkan satu ekor anak.
2. Kamuflase Semangka: Bayi tapir lahir dengan garis-garis putih mirip buah semangka sebagai pelindung di lantai hutan, yang akan hilang setelah usia 6 bulan.
3. Siklus 2 Tahun Sekali: Karena masa pengasuhan yang intensif dan lama, seekor induk tapir rata-rata hanya bisa melahirkan setiap dua tahun sekali (paling cepat).
Krisis Populasi: Menghitung Mundur Kepunahan di Lampung
Lambatnya reproduksi diperparah oleh ulah manusia. Diperkirakan, populasi tapir liar di seluruh Indonesia kini kurang dari 400 hingga 500 ekor saja. Kepadatan mereka sangat renggang, tidak sampai 1 ekor per kilometer persegi.
Kondisi di Provinsi Lampung bahkan jauh lebih kritis. Kelompok kecil tapir yang tersisa di wilayah seperti Mesuji dan Tulang Bawang kini hidup terisolasi. Koridor hijau yang menghubungkan mereka ke kawasan konservasi besar seperti Taman Nasional Way Kambas telah putus total oleh kepungan perkebunan sawit dan permukiman warga.
Akibat fragmentasi lahan ini, tapir sering tersesat masuk ke area warga. Alih-alih diselamatkan, tak jarang satwa malang ini justru diburu atau disembelih karena ketidaktahuan masyarakat. Ini sebuah tragedi besar yang memutus rantai generasi mereka yang sudah sangat sedikit.
STOP! Jangan Pernah Berpikir untuk Memakannya
Mungkin ada yang penasaran, “Apakah daging tapir aman dimakan?” Secara biologis, dagingnya memang tidak beracun. Namun, mengonsumsinya adalah tindakan ilegal, berbahaya, dan dilarang agama:
Hukum Pidana Berat: Tapir adalah satwa yang dilindungi ketat. Berdasarkan regulasi Konservasi Alam Hayati terbaru, siapapun yang menangkap, membunuh, atau memakan tapir diancam hukuman penjara hingga 15 tahun.
Diharamkan MUI: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa demi menjaga keberlangsungan ekosistem dan mencegah kepunahan, hukum mengonsumsi tapir adalah haram.
* Ancaman Zoonosis: Mengonsumsi daging satwa liar yang dipotong tanpa standar medis memicu risiko penularan virus, bakteri, dan parasit berbahaya dari hewan ke manusia.
Menjaga Sang Tenuk Tetap Lestari
Tapir adalah saksi bisu sejarah bumi yang masih bertahan sejak zaman purba. Kehilangan tapir berarti kehilangan arsitek terbaik yang merawat hutan-hutan Sumatera.
Melindungi habitat mereka dan menghentikan perburuan liar bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kewajiban mutlak jika kita tidak ingin anak cucu kita kelak hanya bisa melihat tapir lewat buku sejarah.***




