EMBEGE Tak Membuat Si Kecil Kenyang, Si Besar Justru Mengaum “Kelaparan”

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wahyudi

BANDAR LAMPUNG, Atmosfirnews – Program EMBEGE lahir dari sebuah niat yang mulia, memastikan tidak ada anak Indonesia yang belajar dengan perut kosong, tidak ada balita yang kekurangan gizi, dan tidak ada masa depan yang dipatahkan oleh kemiskinan di meja makan. Di atas kertas. EMBEGE adalah salah satu gagasan paling manusiawi yang pernah dimiliki negara.

Tetapi sejarah mengajarkan, tidak ada program yang terlalu suci untuk tidak diperebutkan.

Ketika kabar penangkapan para petinggi pengelola program mencuat dan distribusi makanan terganggu, sebuah ironi pun tersaji. Si kecil kembali menunggu makan dalam diam, tidak ribut, tapi tetap kenyang.

Sementara di tempat lain, orang-orang dewasa bertengkar. Orang-orang besar ribut, melempar piring-piring makan, saling menuduh, dan saling menyelamatkan diri.

Embege tak membuat si kecil kenyang. Tetapi tampaknya berhasil membangunkan kerakusan para beruk dan kebuasan para serigala.

Para beruk berebut pisang yang bukan miliknya. Para serigala mengendus aroma daging di sekitar piring anak-anak. Ketika perjamuan dihentikan, mereka melolong.

Mereka marah bukan karena anak-anak tak lagi makan, tetapi karena meja santapan mereka tiba-tiba dibalik.

Di situlah tragedinya.

Kelaparan ternyata tidak selalu berada di perut. Ada kelaparan yang berdiam di dalam jiwa yang busuk, yaitu lapar akan uang, lapar akan kuasa, lapar akan proyek, lapar akan bagian yang tak pernah cukup. Dan kelaparan semacam ini jauh lebih berbahaya daripada lapar yang diderita anak-anak miskin.

Baca Juga :  BANJIR BANDAR LAMPUNG: BENCANA KEBIJAKAN YANG DIRESTUI PELANGGARAN STRUKTURAL

Sebab anak yang lapar hanya meminta sepiring nasi.

Tetapi manusia yang dikuasai kerakusan sanggup melahap seluruh lumbung.

Di negeri yang masih memiliki jutaan anak rentan stunting, jutaan keluarga yang hidup dengan penghasilan pas-pasan, dan jutaan orang tua yang setiap hari bertarung agar anaknya tetap bisa makan dan bersekolah, mempermainkan program pangan untuk anak-anak adalah bentuk kekejaman sosial yang paling telanjang.

Karena yang dicuri bukan sekadar uang.

Yang dicuri adalah pertumbuhan seorang anak.

Yang dirampas adalah kesempatan seorang murid untuk belajar dengan tubuh yang sehat.

Yang dirusak adalah kepercayaan orang miskin kepada negara.

Setiap sendok nasi yang tidak sampai kepada anak-anak sesungguhnya adalah masa depan yang dicuri sedikit demi sedikit.

Dan dosa sosial semacam itu tak pernah berhenti pada angka kerugian negara.

Ia menjelma menjadi anak yang gagal tumbuh, pelajar yang sulit berkonsentrasi, ibu yang cemas, dan keluarga miskin yang semakin kehilangan harapan.

Semua agama mengajarkan satu hal yang sama bahwa memberi makan orang lapar adalah pekerjaan yang mulia.

Dalam tradisi Islam, memberi makan orang miskin dipandang sebagai amal yang mendekatkan manusia kepada Tuhan. Bahkan, salah satu tanda pendusta agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Baca Juga :  Pemprov Lampung Apresiasi Bazar OK OCE Qalam–Universitas Saburai

Dalam tradisi Kristen, roti dibagi sebagai simbol kasih dan pengorbanan.

Dalam tradisi Hindu dan Buddha, berbagi makanan adalah bentuk dharma dan welas asih kepada sesama makhluk.

Karena itu, bila ada tangan-tangan yang justru menjadikan makanan anak-anak sebagai ladang perburuan, persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran hukum.

Ia telah memasuki wilayah moral.

Ia telah menyentuh ranah teologi.

Sebab di hadapan Tuhan, mengambil hak anak yang lapar bukan hanya tindakan korup. Ia adalah pengkhianatan terhadap amanat kemanusiaan.

Negara boleh gagal menyusun program. Pemerintah boleh salah merancang kebijakan.Sistem boleh memiliki kelemahan.

Tetapi tidak ada pembenaran moral bagi siapa pun yang menjadikan piring anak-anak sebagai meja perjamuan.

Sebab peradaban diukur bukan dari seberapa megah gedung-gedungnya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang paling kecil dan paling lemah.

Anak-anak yang menunggu makan tidak memahami politik, tidak mengerti birokrasi, dan tidak tahu siapa yang ditangkap atau siapa yang berkelahi.

Mereka hanya tahu satu hal, hari ini mereka lapar.

Dan ketika orang-orang dewasa berebut di atas nama program untuk mereka, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan adalah wajah paling purba manusia, kerakusan para beruk dan kebuasan para serigala.

Teruslah membusuk lebih cepat. Kelak pembusukan ini terbalaskan! Tuhan pasti menurunkan azabnya yang nyata.

Penulis : wahyudi, s.e

Editor : duta allafia

Berita Terkait

Samsat Rajabasa Bersama Satlantas dan Jasa Raharja Gelar Razia Sosialisasi Pajak Kendaraan, Ingatkan Keringanan Berakhir 31 Oktober
Pilkati Serentak Tubaba Berlangsung Aman, Bupati Novriwan Jaya Sampaikan Terima Kasih
Wilson Lalengke Kecewa, Berjam-jam di Polda Lampung Tak Ditemui Pejabat: Surat Audiensi Disuruh Buat Ulang
Hendarwan Menang Pilkati Pulung Kencana, Unggul 1.357 Suara dari Pesaing
KMP Batumandi Terbakar, Aprozi Alam Desak Kemenhub Evaluasi Total Keselamatan Pelayaran
Bareskrim Polri Ungkap Dugaan Beras Fortifikasi Tak Sesuai Label, Sita 1.194 Kemasan Senilai Rp155 Juta
Universitas Saburai Wisuda 349 Lulusan, Rektor: Gelar Harus Dibuktikan dengan Karya Nyata
HUT ke-62 Golkar, Rama Apriditya Tekankan Pentingnya Kerja Nyata dan Kepekaan terhadap Aspirasi Warga
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Samsat Rajabasa Bersama Satlantas dan Jasa Raharja Gelar Razia Sosialisasi Pajak Kendaraan, Ingatkan Keringanan Berakhir 31 Oktober

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Pilkati Serentak Tubaba Berlangsung Aman, Bupati Novriwan Jaya Sampaikan Terima Kasih

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:31 WIB

Wilson Lalengke Kecewa, Berjam-jam di Polda Lampung Tak Ditemui Pejabat: Surat Audiensi Disuruh Buat Ulang

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Hendarwan Menang Pilkati Pulung Kencana, Unggul 1.357 Suara dari Pesaing

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:53 WIB

KMP Batumandi Terbakar, Aprozi Alam Desak Kemenhub Evaluasi Total Keselamatan Pelayaran

Berita Terbaru